IJAZAH TAK “BERTUAH”
Setiap
orang yang menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, tentunya berharap agar
nantinya mendapat pekerjaan yang layak dan mampu memenuhi kebutuhan hidup.
Harapan itu mungkin tidak dapat terealisasi, karena fakta di lapangan banyak
sarjana yang sulit mencari pekerjaan. Saat ini terdapat sekitar 780.000 sarjana
yang menganggur di Indonesia.
Setelah satu bulan mencari pekerjaan
tanpa hasil, akhirya Somardini bertemu dengan Pak Ketut Narda Ugrasena salah
satu dosen Jurusan Pendidikan Kewarganegaaraan, Universitas Pendidikan Ganesha.
Beliau menawarkan ia bekerja di SMP Bhakti Yasa, yang berada di Jalan Ngurah
Rai-Singaraja. Lamarannya sempat dipertimbangkan oleh Kepala SMP Bhakti Yasa karena
guru yang mengajar PKN disana sudah mencukupi. Somardini sempat ditanyakan
mengenai keahlian selain mengajar, yang dengan yakin ia jawab bisa menari Bali.
“Saat saya ditanya mengenai keahlian saya selain mengajar, saya mengatakan saya
bisa menari Bali. Sebanarnya saya menari terakhir itu SD, selanjutnya tidak
pernah lagi. Saya memberanikan diri mengatakan bisa menari dengan harapan saya
diterima bekerja disana” Katanya sambil tertawa mengingat hal itu. Akhirnya
Perempuan asli Jagaraga-Singaraja ini diterima bekerja di SMP Bhakti Yasa.
Ironisnya ia diterima bukan karena nilai ijazahnya yang sempurna, melainkan
bakat menarinya.
Disana
ia diberikan mengajar 4 jam/minggu dengan gaji 10.600/jam. Jika dikalikan,
Somardini hanya mendapatkan Rp. 42.400/bulan. Itupun masih gaji kotor. Gaji
bersih yang ia terima hanya Rp. 30.000/bulan setelah dipotong iuran koperasi
dan lain-lain. Rasanya pengorbanan waktu, pengorbanan biaya, pengorbanan
pikiran, dan pengorbanan lain-lain selama empat tahun untuk memperoleh gelar
sarjana tidak ada artinya sama sekali. Lulus dengan nilai sempurna, kemudian
bekerja sebulan hanya dibayar dengan “tiga nasi bungkus”. Jika dibandingkan, orang
yang bekerja hanya duduk, menyapu, tanpa memerlukan ijazah sarjana mendapatkan
gaji minimal 500rb/bulan. “Saya memang belajar mengenai politik. Saya tidak
menyangka ternyata “potilik” dilapangan sekejam ini. Walaupun mendapat gaji
sekian yang bisa dikatakan tidak sebanding dengan title yang saya miliki, saya tetap bertahan. Yang ada dalam benak
saya saat itu hanyalah yang penting saya bekerja dan keluar dari rumah. Saya
malu menjadi seorang sarjana penganguran. Apa salahnya saya mengabdi. Walaupun
mendapat penghasilan sedikit, tapi saya yakin suatu saat nanti saya pasti akan
menjadi guru tetap atau guru PNS, “ tambah Somardini.
Latar Belakang Somardini
Somardini
adalah perempuan yang sudah mandiri sejak kecil. Ia lahir dari latar belakang
keluarga yang berkecukupan. Hanya biaya untuk kuliah yang ia terima dari orangtua
dan satu buah motor, untuk uang bekal ia usahakan sendiri. “Sejak awal kuliah saya
jualan telur bebek. Sebelum kuliah saya menaruh keranjang di rumah paman untuk
di isi telur bebek. Lalu menjajakan telur bebek kepada warung-warung kecil di Kubutambahan
sampai Jagaraga. Untungnya tidak seberapa, tetapi cukup untuk uang bekal
sehari-hari. Saya tidak
pernah meminta uang bekal kepada orangtua. Kalau dikasi ya saya terima dengan
senang hati, kalau tidak ya tidak apa-apa” kata Somardini saat ditanyai dimana
mendapat uang untuk bekal.
Bungsu
dua bersaudara ini tergolong anak yang cerdas. Selain jualan telur bebek, ia
juga juga mendapatkan uang tambahan dari memolitikan teman. “Saya dulu sering
mendapat uang tamabahan dari teman. Misalnya membuat makalah, temen saya punya
buku tetapi bego, saya yang bawa bukunya dan buatin dia makalah. Teman saya hanya
membayar harga bersihnya saja. Lumayan untuk uang bensin,” cerita Somardini.
Pernah suatu ketika ia mendapatkan pesanan makalah yang cukup banyak. Sepulang
kuliah ia langsung ke rental untuk mengerjakan semua pesanan itu. Beberapa jam
dirental rasa laparnya mampu ia tahan dengan sebolot air putih.
Satu Tahun di SMP Bhakti Yasa
Jatah
mengajar Somardini diambil oleh guru PKN baru yang sudah di sertifikasi.
Somardini terancam di pecat karena sudah ada yang menggantikan pekerjaannya. Ia
diberikan dua pilihan oleh Kepala Sekolah antara mengajar TIK (Teknologi Informasi
dan Komunikasi) dan keluar dari Bhakti Yasa. Dengan perasaan yang bercampur
aduk, ia memilih mengajar TIK "Saat saya berikan dua pilihan yaitu
mengajar TIK atau keluar, saya memilih mengajar TIK. Walaupun saya tidak ahli
dibidang itu dan memang tidak bergerak di bidang itu, saya yakin kalau mau
belajar pasti bisa. Jika saya keluar, saya mau kemana?" ujar Somardini.
Untungnya, ia mendapat jam lebih di mata pelajaran ini yaitu 8 jam/minggu. Walaupun
mendapat ilmu baru dan mendapatkan jam
pelajaran yang lebih dari sebelumnya, tetapi ilmu yang ia telah pelajari selama
empat tahun di perguruan tinggi, ternyata tidak berguna secara utuh di
pekerjaannya, ia malah mengajarkan mata pelajaran yang tidak ia pelajari di
perguruan tinggi.
Tahun Kedua Pascalulus Sarjana
Semakin
hari kebutuhan semakin bertambah, berbeda dengan penghasilan yang tidak
bertambah pula. Untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya perempuan tangguh ini
memutuskan membuka tempat les untuk siswa Sekolah Dasar (SD). Ia membuka les
Matematika dan Bahasa Inggris di rumahnya yang sederhana. Somardi tidak tahu
materi apa yang diajarkan di SD. Kembalilah
ia menerapkan ilmu "politik" yang ia punya. "Karena kebetulan
ada lowongan, lalu saya mengabdi di SD 1 Jagaraga. "Politiknya"
mengajar sambil mencuri materi apa yang diajarkan di SD dan promosi tempat les
saya,” goyonan Made Somardini. Ia mendapat 15 siswa yang les di tempatnya.
Setiap anak di kenakan biaya Rp. 1000/datang. Ia mengadakan les 3 hari
seminggu. Tambahan lainnya, perempan yang saat kuliah akbrab dengan sapaan
Jagaraga ini juga membuka warung kecil-kecilan yang menjual makanan-makanan
ringan, saat melaksanakan les untuk anak SD dirumahnya.
Karena
anak-anak yang les ditempatnya banyak mengalami perubahan nilai akademik,
akhirnya salah satu orang tau dari anak itu menawarkan les privat kepada
Somardini. Dari satu, hingga kini bertampah menjadi lima belas orang. Sampai
saat ini, kebtuhan hidupnya hampir 90%
ditanggung hasil les yang ia dapat. Bisa dikatakan ijazah cumlaude itu
tidak ada gunanya.
Walaupun
belum menjadi PNS, Somardini sangat bersyukur dengan apa yang ia dapatkan hari
ini. “Kata orangtua tidak hanya PNS yang bisa hidup, asalkan mau berusaha mau
kerja, apapun latar belakang kamu, apapun title
kamu, apapun pendidikan kamu, asal mau berusaha pasti bisa hidup. Jangan pernah
kamu menggantungkan harapan di PNS,” cerita Somardini.
Sebagai
lulusan sarjana yang sudah mempunyai ijazah, otomatis gengsi kita akan terkotak
bila mengambil pekerjaan tidak sesuai dengan ijazah atau bisa dikatakan tanpa
menggunakan ijazah. Hal itu akan menyebabkan kita terlalu banyak
menumbang-nimbang pekerjaan. Implikasinya membuat kita terhambat mengambil
pekerjaan dan menjadi orang sukses.
Harapan
PNS tentunya masih ada dalam hati Somardini. Ia juga berharap untuk tes CPNS
dilaksanakan seobjektif mungkin dan terbuka. “Andai kata kalau pemerintah mau
searah anatara hati dan pikirannya, ingin benar-benar mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan memajukan pendidikan, sebaiknya mengangkat PNS diutamakan yang sudah
memiliki pengalaman kerja dan secara objektif (ada tes, jadi libatkan tes itu
secara murni). Bila perlu ada 2 tes, tes terlutis dan tes praktik,, dan harus
pusat yang melihat jangan daerah. Walaupun otonomi daerah tetapi segala
peraturan berlaku dari pusat. Untuk hasil akhirnya dilihat saat itu juga.
Seperti pemilihan putri Indonesia lah, dengan demikian maka akan jelas terlihat
siapa yang cerdas dan memiliki kepribadian bagus. Saat itu juga di suruh
membuat RPP, Silabus, dan perangkat mengajar. Kalau memang bisa
mengimplementasikan yang tertulis di silabus dengan praktik mengajar, itu yang
diangkat. Baru bagus, karena fakta yang saya liat di tempat saya kerja, yang
membuat perangkat pembelajaran 80% itu guru-guru yang mengabdi,” tambah
Somardini. (gt13)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar