Selasa, 08 Januari 2013

FEATURE



IJAZAH TAK “BERTUAH” 

Setiap orang yang menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, tentunya berharap agar nantinya mendapat pekerjaan yang layak dan mampu memenuhi kebutuhan hidup. Harapan itu mungkin tidak dapat terealisasi, karena fakta di lapangan banyak sarjana yang sulit mencari pekerjaan. Saat ini terdapat sekitar 780.000 sarjana yang menganggur di Indonesia.  

Salah satu sarjana yang sulit mencari pekerjaan adalah Made S­omardini (28). Alumni Universitas Pendidikan Ganesha, Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan ini sulit mencari pekerjaan setelah lulus sarjana.  Lulus pada tahun 2007 dengan nilai cumlaude tidak menjanjikan pekerjaan untuknya. Sempat membuat 12 lamaran, tapi satupun tak ada yang menerima. Beberapa diantaranya SMA N 1 Singaraja, SMA Negeri 1 Sawan, SMA Saraswati.
            Setelah satu bulan mencari pekerjaan tanpa hasil, akhirya Somardini bertemu dengan Pak Ketut Narda Ugrasena salah satu dosen Jurusan Pendidikan Kewarganegaaraan, Universitas Pendidikan Ganesha. Beliau menawarkan ia bekerja di SMP Bhakti Yasa, yang berada di Jalan Ngurah Rai-Singaraja. Lamarannya sempat dipertimbangkan oleh Kepala SMP Bhakti Yasa karena guru yang mengajar PKN disana sudah mencukupi. Somardini sempat ditanyakan mengenai keahlian selain mengajar, yang dengan yakin ia jawab bisa menari Bali. “Saat saya ditanya mengenai keahlian saya selain mengajar, saya mengatakan saya bisa menari Bali. Sebanarnya saya menari terakhir itu SD, selanjutnya tidak pernah lagi. Saya memberanikan diri mengatakan bisa menari dengan harapan saya diterima bekerja disana” Katanya sambil tertawa mengingat hal itu. Akhirnya Perempuan asli Jagaraga-Singaraja ini diterima bekerja di SMP Bhakti Yasa. Ironisnya ia diterima bukan karena nilai ijazahnya yang sempurna, melainkan bakat menarinya.
Disana ia diberikan mengajar 4 jam/minggu dengan gaji 10.600/jam. Jika dikalikan, Somardini hanya mendapatkan Rp. 42.400/bulan. Itupun masih gaji kotor. Gaji bersih yang ia terima hanya Rp. 30.000/bulan setelah dipotong iuran koperasi dan lain-lain. Rasanya pengorbanan waktu, pengorbanan biaya, pengorbanan pikiran, dan pengorbanan lain-lain selama empat tahun untuk memperoleh gelar sarjana tidak ada artinya sama sekali. Lulus dengan nilai sempurna, kemudian bekerja sebulan hanya dibayar dengan “tiga nasi bungkus”. Jika dibandingkan, orang yang bekerja hanya duduk, menyapu, tanpa memerlukan ijazah sarjana mendapatkan gaji minimal 500rb/bulan. “Saya memang belajar mengenai politik. Saya tidak menyangka ternyata “potilik” dilapangan sekejam ini. Walaupun mendapat gaji sekian yang bisa dikatakan tidak sebanding dengan title yang saya miliki, saya tetap bertahan. Yang ada dalam benak saya saat itu hanyalah yang penting saya bekerja dan keluar dari rumah. Saya malu menjadi seorang sarjana penganguran. Apa salahnya saya mengabdi. Walaupun mendapat penghasilan sedikit, tapi saya yakin suatu saat nanti saya pasti akan menjadi guru tetap atau guru PNS, “ tambah Somardini.

Latar Belakang Somardini
Somardini adalah perempuan yang sudah mandiri sejak kecil. Ia lahir dari latar belakang keluarga yang berkecukupan. Hanya biaya untuk kuliah yang ia terima dari orangtua dan satu buah motor, untuk uang bekal ia usahakan sendiri. “Sejak awal kuliah saya jualan telur bebek. Sebelum kuliah saya menaruh keranjang di rumah paman untuk di isi telur bebek. Lalu menjajakan telur bebek kepada warung-warung kecil di Kubutambahan sampai Jagaraga. Untungnya tidak seberapa, tetapi cukup untuk uang bekal sehari-hari. Saya tidak pernah meminta uang bekal kepada orangtua. Kalau dikasi ya saya terima dengan senang hati, kalau tidak ya tidak apa-apa” kata Somardini saat ditanyai dimana mendapat uang untuk bekal.
Bungsu dua bersaudara ini tergolong anak yang cerdas. Selain jualan telur bebek, ia juga juga mendapatkan uang tambahan dari memolitikan teman. “Saya dulu sering mendapat uang tamabahan dari teman. Misalnya membuat makalah, temen saya punya buku tetapi bego, saya yang bawa bukunya dan buatin dia makalah. Teman saya hanya membayar harga bersihnya saja. Lumayan untuk uang bensin,” cerita Somardini. Pernah suatu ketika ia mendapatkan pesanan makalah yang cukup banyak. Sepulang kuliah ia langsung ke rental untuk mengerjakan semua pesanan itu. Beberapa jam dirental rasa laparnya mampu ia tahan dengan sebolot air putih.

Satu Tahun di SMP Bhakti Yasa
Jatah mengajar Somardini diambil oleh guru PKN baru yang sudah di sertifikasi. Somardini terancam di pecat karena sudah ada yang menggantikan pekerjaannya. Ia diberikan dua pilihan oleh Kepala Sekolah antara mengajar TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan keluar dari Bhakti Yasa. Dengan perasaan yang bercampur aduk, ia memilih mengajar TIK "Saat saya berikan dua pilihan yaitu mengajar TIK atau keluar, saya memilih mengajar TIK. Walaupun saya tidak ahli dibidang itu dan memang tidak bergerak di bidang itu, saya yakin kalau mau belajar pasti bisa. Jika saya keluar, saya mau kemana?" ujar Somardini. Untungnya, ia mendapat jam lebih di mata pelajaran ini yaitu 8 jam/minggu. Walaupun mendapat ilmu baru dan  mendapatkan jam pelajaran yang lebih dari sebelumnya, tetapi ilmu yang ia telah pelajari selama empat tahun di perguruan tinggi, ternyata tidak berguna secara utuh di pekerjaannya, ia malah mengajarkan mata pelajaran yang tidak ia pelajari di perguruan tinggi.

Tahun Kedua Pascalulus Sarjana
Semakin hari kebutuhan semakin bertambah, berbeda dengan penghasilan yang tidak bertambah pula. Untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya perempuan tangguh ini memutuskan membuka tempat les untuk siswa Sekolah Dasar (SD). Ia membuka les Matematika dan Bahasa Inggris di rumahnya yang sederhana. Somardi tidak tahu materi apa yang diajarkan di SD.  Kembalilah ia menerapkan ilmu "politik" yang ia punya. "Karena kebetulan ada lowongan, lalu saya mengabdi di SD 1 Jagaraga. "Politiknya" mengajar sambil mencuri materi apa yang diajarkan di SD dan promosi tempat les saya,” goyonan Made Somardini. Ia mendapat 15 siswa yang les di tempatnya. Setiap anak di kenakan biaya Rp. 1000/datang. Ia mengadakan les 3 hari seminggu. Tambahan lainnya, perempan yang saat kuliah akbrab dengan sapaan Jagaraga ini juga membuka warung kecil-kecilan yang menjual makanan-makanan ringan, saat melaksanakan les untuk anak SD dirumahnya.
Karena anak-anak yang les ditempatnya banyak mengalami perubahan nilai akademik, akhirnya salah satu orang tau dari anak itu menawarkan les privat kepada Somardini. Dari satu, hingga kini bertampah menjadi lima belas orang. Sampai saat ini, kebtuhan hidupnya hampir 90%  ditanggung hasil les yang ia dapat. Bisa dikatakan ijazah cumlaude itu tidak ada gunanya.
Walaupun belum menjadi PNS, Somardini sangat bersyukur dengan apa yang ia dapatkan hari ini. “Kata orangtua tidak hanya PNS yang bisa hidup, asalkan mau berusaha mau kerja, apapun latar belakang kamu, apapun title kamu, apapun pendidikan kamu, asal mau berusaha pasti bisa hidup. Jangan pernah kamu menggantungkan harapan di PNS,” cerita Somardini.
Sebagai lulusan sarjana yang sudah mempunyai ijazah, otomatis gengsi kita akan terkotak bila mengambil pekerjaan tidak sesuai dengan ijazah atau bisa dikatakan tanpa menggunakan ijazah. Hal itu akan menyebabkan kita terlalu banyak menumbang-nimbang pekerjaan. Implikasinya membuat kita terhambat mengambil pekerjaan dan menjadi orang sukses.
Harapan PNS tentunya masih ada dalam hati Somardini. Ia juga berharap untuk tes CPNS dilaksanakan seobjektif mungkin dan terbuka. “Andai kata kalau pemerintah mau searah anatara hati dan pikirannya, ingin benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memajukan pendidikan, sebaiknya mengangkat PNS diutamakan yang sudah memiliki pengalaman kerja dan secara objektif (ada tes, jadi libatkan tes itu secara murni). Bila perlu ada 2 tes, tes terlutis dan tes praktik,, dan harus pusat yang melihat jangan daerah. Walaupun otonomi daerah tetapi segala peraturan berlaku dari pusat. Untuk hasil akhirnya dilihat saat itu juga. Seperti pemilihan putri Indonesia lah, dengan demikian maka akan jelas terlihat siapa yang cerdas dan memiliki kepribadian bagus. Saat itu juga di suruh membuat RPP, Silabus, dan perangkat mengajar. Kalau memang bisa mengimplementasikan yang tertulis di silabus dengan praktik mengajar, itu yang diangkat. Baru bagus, karena fakta yang saya liat di tempat saya kerja, yang membuat perangkat pembelajaran 80% itu guru-guru yang mengabdi,” tambah Somardini. (gt13)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar