Senin, 17 Desember 2012

CONTOH FEATURE


-->
KOMANG DAN SAPU LIDINYA
Puncak Wanagiri. Pepohonan mulai menampakkan dirinya yang sedari tadi bersembunyi di balik kabut. Hembusan angin kencang, tapi bukan puyuh terasa menghantam sekucur tubuh. Udara sudah mulai dicemari karbon monoksida yang dikeluarkan oleh kendaraan yang lalu lalang di depanku. Ditemani secangkir kopi hitam untuk menghangatkan tubuh. Tampak di dapanku sekelompok anak berseragam putih merah berjalan dan tertawa bersama. Dari arah utara terlihat jelas sekelompok anak berseragam biru putih yang dilapisi jaket mengendarai sepeda motor. Sesekali ia menghentakkan gas sepeda motornya.
Komang Gunawan (dok: Gita)


Tak sengaja mataku tertuju pada seorang anak. “Namanya Komang Gunawan” kata pedagang kopi yang duduk disampingku. Dalam benak ku terlintas pertanyaan “Mengapa ia tak menggunakan seragam seperti anak-anak itu?”. Dan pertanyaanku terjawab setelah aku berbincang-bincang bersamanya. Rupanya Komang hanya merasakan bangku Sekolah Dasar (SD). Tidak dapat melanjutkan pendidikan karena kendala biaya, walaupun sudah ada program pemerintah wajib

Komang Gunawan (dok: Gita)

belajar 9 tahun tetapi itu tidak berlaku untuknya. Setiap pagi tepat pukul 07.00 WITA ia selalu menemui sampah-sampah yang ada di tempat parkir Puncak Wanagiri-Buleleng untuk dibersihkan. Hanya sampah yang setia menunggu kehadirannya. Walaupun kabut tebal dan hujan menghiasi puncak Komang tetap akan menemui sampah-sampah yang ada disana. Dari rumahnya ia butuh berjalan kurang lebih 2 kilometer untuk sampai disana. Saat menuju puncak, Ia hanya berbekal beberapa lidi yang diikat menjadi satu. Ia baru berumur 14 tahun. Sudah hampir setahun ia menjalani pekerjaan ini. Ia diberikan imbalan sebesar Rp. 360.000/bulan oleh para pedagang yang berjualan di tempat parkir Puncak Wanagiri. Jika tak sempat menemui si sampah, ia akan mengutus orang untuk menggantikan rutinitasnya dan memberikan imbalan sebanyak Rp. 15.000/hari. Komang meliki 3 saudara kandung. Sulungnya telah meninggalnya saat baru lahir. Kakaknya yang nomor 2 (Kadek Sawitri) berkerja sebagai penjual pisang di Puncak Wanagiri bersama Ayahnya. Dan bungsunya masih duduk di Sekolah Dasar kelas 4.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar