-->
KOMANG
DAN SAPU LIDINYA
Puncak
Wanagiri. Pepohonan mulai menampakkan dirinya yang sedari tadi bersembunyi di
balik kabut. Hembusan angin kencang, tapi bukan puyuh terasa menghantam sekucur
tubuh. Udara sudah mulai dicemari karbon monoksida yang dikeluarkan oleh
kendaraan yang lalu lalang di depanku. Ditemani secangkir kopi hitam untuk
menghangatkan tubuh. Tampak di dapanku sekelompok anak berseragam putih merah
berjalan dan tertawa bersama. Dari arah utara terlihat jelas sekelompok anak
berseragam biru putih yang dilapisi jaket mengendarai sepeda motor. Sesekali ia
menghentakkan gas sepeda motornya.
![]() |
| Komang Gunawan (dok: Gita) |
Tak
sengaja mataku tertuju pada seorang anak. “Namanya Komang Gunawan” kata
pedagang kopi yang duduk disampingku. Dalam benak ku terlintas pertanyaan
“Mengapa ia tak menggunakan seragam seperti anak-anak itu?”. Dan pertanyaanku
terjawab setelah aku berbincang-bincang bersamanya. Rupanya Komang hanya merasakan bangku
Sekolah Dasar (SD). Tidak dapat melanjutkan pendidikan karena kendala biaya,
walaupun sudah ada program pemerintah wajib
| Komang Gunawan (dok: Gita) |
belajar 9 tahun tetapi itu tidak
berlaku untuknya. Setiap pagi tepat pukul 07.00 WITA ia
selalu menemui sampah-sampah yang ada di tempat parkir Puncak Wanagiri-Buleleng
untuk dibersihkan. Hanya sampah yang setia menunggu kehadirannya. Walaupun
kabut tebal dan hujan menghiasi puncak Komang tetap akan menemui sampah-sampah
yang ada disana. Dari rumahnya ia butuh berjalan kurang lebih 2 kilometer untuk
sampai disana. Saat menuju puncak, Ia hanya berbekal beberapa lidi yang diikat
menjadi satu. Ia baru berumur 14 tahun. Sudah hampir setahun ia menjalani
pekerjaan ini. Ia diberikan imbalan sebesar Rp. 360.000/bulan oleh para
pedagang yang berjualan di tempat parkir Puncak Wanagiri. Jika tak sempat menemui si sampah,
ia akan mengutus orang untuk menggantikan rutinitasnya dan memberikan imbalan
sebanyak Rp. 15.000/hari. Komang meliki 3 saudara kandung. Sulungnya telah
meninggalnya saat baru lahir. Kakaknya yang nomor 2 (Kadek Sawitri) berkerja
sebagai penjual pisang di Puncak Wanagiri bersama Ayahnya. Dan bungsunya masih
duduk di Sekolah Dasar kelas 4.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar