Jumat, 07 Desember 2012

-13-



TANAH BALI



Bali yang dikenal sebagai pulau surga, pulau seribu budaya, dan pulau dewata, yang masyarakatnya juga di kenal ramah ternyata memiliki cerita yang menyedihkan. Hal itu dikarenakan banyak masyarakat yang pemikirannya keliru. Salah satunya menjual tanah warisan leluhur kepada orang asing seenaknya. Penjualan tanah di Bali kepada orang asing memiliki banyak kerugian bagi masyarakat Bali sendiri. Dengan terjualnya tanah kepada orang asing, masyarakat Bali akan menjadi orang asing di negeri sendiri. Hal ini juga dapat mengurangi lahan pertanian karena orang asing yang membeli tanah di Bali akan membangun villa, hotel atau bangunan lainnya. Fatalnya orang Bali hanya menjadi babu di negeri sendiri.
Dewasa ini dapat dengan mudah ditemui tanah Bali yang telah beralih kepemilikan. Tanah yang dulunya milik orang Bali sekarang sudah menjadi milik orang asing/luar Bali. Hal ini disebabkan banyak orang Bali yang terbentur dana, atau pajak tanah di Bali terlalu tinggi, sehingga memilih untuk menjual tanahnya. Orang asing akan membeli tanah di Bali dengan harga lebih tiggi dibandingkan harga pasar, ini juga memperkuat keinginan orang Bali untuk menjual tanah kepadanya. Alasan orang asing hendak membeli tanah di Bali dengan harga tinggi, karena berinvestasi tanah di Bali sangatlah menjanjikan. Pertanyaannya adalah, “Akan ke mana dan menjadi apakah Bali di masa depan?” Ketika tanah-tanah di Bali sudah tak lagi milik orang Bali. Salah satu jawabannya adalah hak-hak orang Bali akan dimarjinalkan dan menjadi orang asing di negeri sendiri.
            Yang kedua tanah yang dulunya merupakan sawah atau ladang, akan berevolusi menjadi villa, hotel, atau bangunan lainnya jika dijual kepada orang asing. Sejak dulu masyarakat Bali  sudah melakukan tradisi bertani. Basis Bali adalah pertanian. Tetapi sekarang sedikit demi sedikit para petani di Bali sudah mulai menghilang. Generasi muda Bali sangat sedikit bahkan tidak ada yang ingin menjadi petani. Jika terus melakukan pembangunan maka tidak akan ada lagi lahan pertanian di Bali. Tidak adanya lahan untuk menanam padi menyebabkan para petani tidak dapat memroduksi padi yang merupakan bahan dasar nasi. Dengan demikian jangka panjangnya, tradisi pertanian akan punah. Selain berdampak pada petani dan lahan untuk bertani, hal ini juga berdampak pada lingkungan Bali. Lingkungan Bali sudah banyak yang rusak, dan tambah rusak lagi jika terus melakukan pembangunan.
            Dilihat dari perspektif ketenagakerjaan, pariwisata Bali bukanlah untuk orang Bali melainkan dari dan untuk orang asing. Mengapa demilkian? Karena semua fasilitas wisata dimodali orang asing. Fakta di lapangan sudah menyatakan "Orang bali hanya menjadi ‘babu’. Sangat minim sekali orang Bali yang menjadi pemilik hotel-hotel dan vila di Bali. Orang Bali hanya bekerja pada orang asing yang merupakan pemilik hotel di Bali".
Itulah beberapa kerugian yang akan ditimbulkan jika orang Bali terus menjual tanah kepada orang asing. Seperti menjadi orang asing di negeri sendiri, sawah atau ladang akan berevolusi menjadi villa, hotel, atau bangunan lainnya, dan orang bali hanya menjadi babu di negeri sendiri. Seharusnya orang Bali bertindak tegas, dan tidak cepat mengambil keputusan, dan tentunya memikirkan jangka panjangnya. Salah satunya dengan tidak menjual tanah kepada orang asing. “Mengapa tidak kita saja yang memanfaatkan warisan yang diberikan oleh nenek moyang?” Tanah Bali bukanlah warisan untuk dijual, tetapi warisan untuk anak cucu selanjutnya.

1 komentar:

  1. Mari katakan itu, pertama2 pada diri, kemudia orang2 di sekitar. Ini bukan sekadar ttg tanah, sy kira. Tapi tentang sikap dan cara pandang. Bukan hanya BAli. Yang lebih dulu mengalami ini mungkin masyarakan betawi di jakarta :) Terima kasih.

    BalasHapus