TANAH BALI
Bali yang dikenal sebagai pulau surga, pulau seribu
budaya, dan pulau dewata, yang masyarakatnya juga di kenal ramah ternyata
memiliki cerita yang menyedihkan. Hal itu dikarenakan banyak masyarakat yang
pemikirannya keliru. Salah satunya menjual tanah warisan leluhur kepada orang
asing seenaknya. Penjualan tanah di Bali kepada orang asing memiliki banyak
kerugian bagi masyarakat Bali sendiri. Dengan
terjualnya tanah kepada orang asing, masyarakat Bali
akan menjadi orang asing di negeri sendiri. Hal ini juga dapat mengurangi lahan
pertanian karena orang asing yang membeli tanah di Bali
akan membangun villa, hotel atau bangunan lainnya. Fatalnya orang Bali hanya menjadi babu di negeri sendiri.
Dewasa ini
dapat dengan mudah ditemui tanah Bali yang telah
beralih kepemilikan. Tanah yang dulunya milik orang Bali sekarang sudah menjadi
milik orang asing/luar Bali. Hal ini
disebabkan banyak orang Bali yang terbentur dana, atau pajak tanah di Bali terlalu tinggi, sehingga memilih untuk menjual
tanahnya. Orang asing akan membeli tanah di Bali dengan harga lebih tiggi
dibandingkan harga pasar, ini juga memperkuat keinginan orang Bali
untuk menjual tanah kepadanya. Alasan orang asing hendak membeli tanah di Bali
dengan harga tinggi, karena berinvestasi tanah di Bali
sangatlah menjanjikan. Pertanyaannya adalah, “Akan ke mana dan menjadi apakah Bali di masa depan?” Ketika tanah-tanah di Bali sudah tak
lagi milik orang Bali. Salah satu jawabannya
adalah hak-hak orang Bali akan dimarjinalkan
dan menjadi orang asing di negeri sendiri.
Yang
kedua tanah yang dulunya merupakan sawah atau ladang, akan berevolusi menjadi
villa, hotel, atau bangunan lainnya jika dijual kepada orang asing. Sejak dulu
masyarakat Bali sudah melakukan tradisi bertani. Basis Bali adalah pertanian. Tetapi sekarang sedikit demi
sedikit para petani di Bali sudah mulai
menghilang. Generasi muda Bali sangat sedikit
bahkan tidak ada yang ingin menjadi petani. Jika terus melakukan pembangunan
maka tidak akan ada lagi lahan pertanian di Bali. Tidak adanya lahan untuk
menanam padi menyebabkan para petani tidak dapat memroduksi padi yang merupakan
bahan dasar nasi. Dengan demikian jangka panjangnya, tradisi pertanian akan
punah. Selain berdampak pada petani dan lahan untuk bertani, hal ini juga
berdampak pada lingkungan Bali. Lingkungan
Bali sudah banyak yang rusak, dan tambah rusak lagi jika terus melakukan
pembangunan.
Dilihat
dari perspektif ketenagakerjaan, pariwisata Bali bukanlah untuk orang Bali melainkan dari dan untuk orang asing. Mengapa demilkian?
Karena semua fasilitas wisata dimodali orang asing. Fakta di lapangan sudah
menyatakan "Orang bali hanya menjadi ‘babu’. Sangat minim sekali orang
Bali yang menjadi pemilik hotel-hotel dan vila
di Bali. Orang Bali
hanya bekerja pada orang asing yang merupakan pemilik hotel di Bali".
Itulah beberapa
kerugian yang akan ditimbulkan jika orang Bali
terus menjual tanah kepada orang asing. Seperti menjadi orang asing di negeri
sendiri, sawah atau ladang akan berevolusi menjadi villa, hotel, atau bangunan
lainnya, dan orang bali hanya menjadi babu di negeri sendiri. Seharusnya orang Bali bertindak tegas, dan tidak cepat mengambil
keputusan, dan tentunya memikirkan jangka panjangnya. Salah satunya dengan
tidak menjual tanah kepada orang asing. “Mengapa tidak kita saja yang
memanfaatkan warisan yang diberikan oleh nenek moyang?” Tanah Bali bukanlah
warisan untuk dijual, tetapi warisan untuk anak cucu selanjutnya.

Mari katakan itu, pertama2 pada diri, kemudia orang2 di sekitar. Ini bukan sekadar ttg tanah, sy kira. Tapi tentang sikap dan cara pandang. Bukan hanya BAli. Yang lebih dulu mengalami ini mungkin masyarakan betawi di jakarta :) Terima kasih.
BalasHapus